Pages

Ads 468x60px

Saturday, June 27, 2015

Mengenal 2 Kolektor Batik Yang Terkenal

Mungkin hanya sedikit orang yang mengenal para kolektor batik. Sebab, di negara kita batik termasuk yang hal biasa, sehingga tidak terpikir bagi sebagian orang untuk mengoleksinya. Padahal ada 2 orang kolektor batik yang cukup terkenal yang biasa mengoleksi batik yang indah.


Kain batik memang termasuk kain yang sangat populer. Bagi sebagian orang, batik bisa dijadikan benda koleksi, dipuja, dan disimpan bak barang antik. Tak mengherankan untuk mendapatkannya, kolektor batik rela mengeluarkan dana tak terbatas hanya untuk selembar batik.

Diantara para kolektor batik yang sekaligus seorang desainer adalah :

Thomas Sigar

Kolektor batik yang bernama Thomas Sigar adalah desainer yang cukup ternama di Indonesia. Thomas mengaku suka batik sejak lama. Sebagai perancang busana, dia mau tak mau akhirnya bersentuhan dengan kain batik. Koleksinya adalah batik-batik lawas tapi pilihan. Jumlahnya ratusan buah. Dia tak mau bicara soal nilai koleksinya, tapi dijamin semuanya berkualitas.

Salah satu koleksi batik Thomas adalah batik cirebon yang bermotif mega mendung. Batik ini  dinilainya unik karena dasar kainnya hitam dengan motif mega mendung merah. Menurut Thomas koleksi batik jenis ini didapat dari seorang ibu yang dulu pernah bekerja pada Fatmawati Soekarno, presiden pertama RI. Sehingga, batik ini termasuk batik yang layak dijadikan sebagai koleksi.

R.R. Siti Maimuna

Desainer lainnya yang juga seorang kolektor batik adalah RR Siti Maimuna. Desainer sekaligus kolektor batik kuno berumur 37 tahun ini banyak dikenal kalangan pejabat dan pengelola museum, baik di Indonesia maupun luar negeri, seperti di Jepang.

Beliau mengoleksi batik madura dengan beragam corak, seperti Bangkalan asli Tanjung Bumi, Sampang Pamekasan dan corak Sumenep. Untuk batik tanjung bumi ini ternyata sudah dibuat sejak ratusan tahun lalu. RR Siti Maimuna, sang kolektor batik tersebut, memiliki 5 koleksi batik kuno tanjung bumi tersebut  yang kesemuanya telah diuji oleh museum tekstil di Jakarta. Kelima koleksi batik yang dimilikinya adalah jenis mano’ juduh tarpotè kellengan, tarpotè bangan, burubur”, rawan mèra, dan tana pasèr mèra. Semuanya berusia 200 tahun. Dari koleksi itu, jenis mano’ juduh tarpotè kellengan yang banyak diminati para kolektor dan pemilik museum.

Saat ini ada upaya dari para penggemar batik terutama bagi mereka yang menyukai batik dengan motif lama. Mereka membuat batik baru dengan motif lama, selain untuk pelestarian motif agar tidak hilang, juga untuk memperkenalkan kepada khalayak bahwa motif seperti ini memang ada dari dulu.

Namun dilihat dari segi mutu, jelas berbeda dengan batik yang ada pada zaman dulu. Sebab proses pembuatannyapun berbeda dengan batik zaman dahulu. Dan karena hal inilah para kolektor batik kurang menyukai jenis batik replika seperti ini. Tetapi, bagi pecinta batik lainnya sering berpikir bahwa daripada tidak dapat yang asli, maka replika pun boleh-boleh saja.

Demikian sedikit artikel tentang kolektor batik, semoga bermanfaat.

No comments:

Post a Comment

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates